Sabtu, 02 Oktober 2021

Pandemi Covid-19 Hampir Usai

 Alhamdulillah keadaan semakin hari semakin membaik. Hampir tidak lagi terdengar ucapan Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un di berbagai media. Baik media pengumuman langsung dari masyarakat melalui masjid, musholla maupun media sosial lain, seperti Facebook dan grup WhatsApp. Yang mana beberapa bulan kemarin sehari tidak kurang dari tiga kali kata istirjak menghiasi medsos. Dari tokoh, ulama, ilmuwan, dosen, dokter, perawat, guru, bahkan rakyat biasa tak pandang bulu semua bisa terpapar covid-19 dan bisa meninggal dunia.


Setelah keadaan mencekam di beberapa bulan kemarin akibat adanya lonjakan kedua peningkatan pandemi Covid-19, Dengan keadaan yang mencekam, kematian demi kematian susul menyusul, dari kerabat, tetangga hingga anggota keluarga. Akhirnya, kini mulai reda, Semoga terus membaik.


Alhamdulillah pembelajaran tatap muka terbatas disambut dengan penuh semangat oleh orangtua, anak-anak didik dan guru. Karena sudah merasa jenuh dengan pembelajaran daring/online. Meskipun pembelajaran juga masih ada daringnya. Istilahnya metode pembelajaran blended learning. Ini sudah bisa sedikit mengurai kejenuhan belajar di masa pandemi ini. Sistem pembelajaran yang menggunakan sistem shift ini ada hikmahnya juga yaitu sebagai guru bisa memberikan perhatian lebih banyak kepada anak didik karena jumlahnya sedikit dibanding jika semua masuk bersamaan. Kelemahannya guru sedikit bertambah tugasnya dengan mengajar pelajaran sama dua kali, sedikit tambah tugas. Selain itu untuk anak-anak usia dini atau Paud ada resiko yang lebih besar jika masuk tatap muka yaitu resiko jatuh ketika mainan di luar ketika naik tangga mainan, berlari-lari, dan resiko berebut mainan. Ini yang tidak pernah terjadi ketika belajar online atau BDR (Belajar Dari Rumah). 


Ketika masuk pertama baru sadar akan resiko tersebut, karena sempat terlupakan dari ingatan bagaimana membersamai anak-anak bermain di sekolah. Maklum hampir 2 tahun tidak bertemu anak-anak. 


Apalagi anak-anak produk pandemi Covid-19 yang erat dengan gadget. Sehingga ketika di kelas hanya bisa konsentrasi beberapa menit. Selanjutnya rebahan, satu rebahan diikuti lainnya. Sehingga sulit dikendalikan hanya untuk berdo'a saja. Hehehe ... 


Sebagai pendidik kami harus sadar, sabar dan terus belajar meningkatkan diri, bagaimana melayani anak-anak di masa pasca pandemi covid-19 ini dengan lebih baik dan berkualitas.


Alhamdulillah di masa pandemi Covid-19 ini banyak sekali webinar maupun Belajar mandiri untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan sebagai pendidik untuk melayani anak-anak. 

To be continued

Tulungagung, 2 Oktober 2021 (23.09)

Kamis, 09 September 2021

HARI PERTAMA PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS

 Alhamdulillah akhirnya sekolah dibuka hari ini untuk pertamakalinya, semenjak pandemi covid-19 melanda dunia, yaitu sejak tanggal 16 Maret 2019 sekolah libur hingga kini  hampir 2 tahun mengalami penundaan. Dimana di tahun pembelajaran baru 2021 - 2022 akan dibuka dengan segala harapan sekolah masuk, berani memberi harapan kepada wali murid baru bahwa sekolah akan dibuka.

Namun, sejak bulan Juli baru hari ini bisa benar-benar terlaksana, ini saja juga mengalami beberapa kali penundaan. Dikarenakan adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang diberlakukan pemerintah sejak awal bulan Agustus yang terus ditambah setiap hari Senin bertambah satu minggu ke depan, hingga mencapai level 4

Bagi daerah yang masih berada di level 4 artinya penyebaran covid-19 masih banyak dan berada di zona hitam atau merah tidak boleh mengadakan PTM. Alhamdulillah Tulungagung berada di level 3 sehingga hari ini bisa mengadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. 

Adapun sebelum pelaksanaan PTMT ini banyak sekali syarat yang harus dipenuhi oleh lembaga, pendidik, wali murid maupun peserta didik. Semua agar terhindar dari terpapar virus corona karena terjadi mobilitas atau perkumpulan orang-orang di sekolah.

Semua harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah sejak lama dijalankan :

1. Sering mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.

2. Memakai handsanitizer.

3. Memakai masker.

4. Menjaga jarak.

5. Tidak berkerumun.

6. Pengecekan suhu tubuh.

7. Penyemprotan disinfektan.

8. Tidak bersalaman.

Terkait dengan protokol kesehatan bagi peserta didik juga diberlakukan hal-hal tersebut ditambah dengan beberapa ketentuan yaitu :

1. Masuk sekolah dengan sistem shift.

2. Setiap shift maksimal 5 anak

3. Shift tidak boleh satu hari, melainkan di hari lain, misal : hari ini masuk besok libur dst. ganti shift

    selanjutnya.

4. Jarak tempat duduk anak 1,5 - 2 meter.

5. Bila sakit tidak perlu masuk sekolah.

6. Tidak boleh ditunggu.

7. Wajib memakai masker.

8. Orangtua harus menandatangani surat persetujuan masuk.

9. Tidak bersalaman

Bagi pendidik :

1. Harus sudah vaksin.

2. Memakai masker/faceshild.

3. Bila sakit tidak perlu masuk.


Di hari pertama keunikan terjadi, karena anak-anak sudah lama tidak bersekolah, sudah terbiasa dengan suasana rumah yang tanpa aturan belajar, maka anak-anak belajar sebentar saja sudah capek. Ada yang jalan-jalan keluar untuk main, ada yang rebahan (memang generasi corona ada yang menyebut dengan generasi rebahan ... hehehe ternyata benar).

Nah, seharian anak-anak masih sulit dikendalikan, maklum anak Paud baru mengenyam sekolah juga begitu ditambah adanya corona. Gurunya juga masih adaptasi mengajar, masih banyak yang lupa karena lama tidak bertatap muka langsung dengan anak-anak. Selama ini melalui daring, jadi semua anak duduk manis ... hehehe ... duduk manis di grup WA. Lupa jika di sekolah juga begitulah anak-anak Paud, konsentrasi sesuai usia yang rata-rata 3 - 4 tahun ... ya sekitar 3 - 4 menit bisa duduk diam. Oh ya, perlu diketahui bahwa di Paud anak-anak juga tidak harus duduk manis selama pembelajaran. Asalkan masih terkondisi tidak masalah jika anak-anak jalan-jalan.

Sungguh hari ini ada pengalaman yang tak terlupa, dimana suasana di kelas satu anak keluar kelas, kemudian berhasil saya ajak masuk kelas, ganti lagi yang keluar, demikian sampai pembelajaran usai waktu berdo'a pulang. Hingga mau pulang saja membutuhkan waktu 15 menit untuk bisa berdo'a bersama-sama, itupun juga tidak berhasil. Maklum anak-anak Paud, saya berharap semoga orangtua memahaminya. 

Di tengah-tengah belajar ada anak yang tubuhnya gendut sehat, bilang begini :

"Bu Ci, saya lapar," kata Nanta. Karena dia gendut mungkin tidak tahan lapar pikirku.

"Iya, nanti selesaikan dulu ini baru makan," jawabku.

Eee... rupanya dia lari ke Bundanya minta jajan, dibawa ke saya minta dibukakan. Sebagai guru juga bingung, antara peraturan bahwa tidak makan ketika belajar dengan kebutuhan anak yang sedang lapar. Karena mereka masih terbiasa di rumah. Dan memang hari ini saya coba belajar satu seperempat jam ternyata anak-anak belum bisa. Ini menjadi evaluasi bagi saya, untuk mengkondisikan agar anak-anak nyaman dan enjoy dalam belajar sambil bermain di sekolah. Bahkan peraturan dari Dinas PTMT ini benar-benar terbatas yakni belajar tanpa istirahat.

Oh iya, hari ini belajanya adalah makanan sehat bergizi seimbang. Anak-anak dikenalkan isi piringku. Kemudian dari rumah membawa bermacam-macam sayur yang dipunyai untuk diperlihatkan Bu Guru sayur apa yang dia bawa. Dilanjutkan memotong sayur yang dibawa.

Semoga pengalaman hari pertama ini bisa membangun karakter baik bagi anak-anak. 

Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.


Sabtu, 04 September 2021

 PANDEMI COVID-19 LONJAKAN KEDUA


 Pandemi belum beakhir, justru semakin masif. Meluluhlantakkan semua segi kehidupan, dari ekonomi, pendidikan hingga keagamaan harus terhenti. Korban berguguran, pagi dibawa ke rumah sakit sorenya Innalillahi demikian sebaliknya. Ada yang satu keluarga meninggal dissat anggota yang lain di rawat di rumah sakit. Sungguh memilukan pandemi ini Ya Alloh. Apalagi di lonjakan kedua di tahun kedua virus covid-19 melanda dunia ini.



Senin, 05 Juli 2021

 

HIKMAH LOCKDOWN

                Setiap yang terjadi tak lepas dari kehendak Alloh. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfud. Tak satupun bisa mengelak dan menghindarinya. Hanya pasrah, ridho, ikhtiar, do’a dan tawakkal Illallah. Demikian yang harus kita lakukan, mengambil hikmah dari setiap kejadian. Dengan penerapan lock down yaitu berdiam di rumah, semua dikerjakan di rumah, tidak keluar rumah jika tidak benar-benar udzur syar’i artinya tidak keluar jika tidak ada kerperluan yang mendesak.

Diantara hikmah lock down adalah :

A.      A. POSITIF

1.       Lebih banyak waktu untuk beribadah, membaca AL Qur’an, membaca buku-buku pengetahuan lainnya, memperdalam ilmu agama dll. Sudah menjadi habits sebelum Ramadan aktivitas setelah subuh adalah membaca Al Qur'an, berdzikir dan membaca buku atau belajar ilmua lainnya. Maka, ketika tiba bulan Ramadan aktivitas ini lebih nyaman karena kita tidak dituntut tergesa-gesa pergi ke tempat kerja, karena di masa pandemi ini bekerja online atau BDR (Belajar Dari Rumah). Sebagai seorang guru setelah memberi tugas bisa ditinggal, nanti sewaktu-waktu bisa dilihat dan dinilai hingga pukul 20.00. Karena waktu mengerjakan tugas sesuai degan kondisi orangtua dan kemauan anak, jadi waktu tidak terbatas sebagaimana masuk sekolah. Sehingga sebagai guru harus banyak bersabar, apalagi orangtua yang harus mendampingi Ananda di rumah lebih berat lagi. 

            Dengan adanya lockdown bisa kita memaksakan diri membaca Al Qur’a one day one juz.

2.       Lebih banyak waktu dengan keluarga. Membantu anak mengerjakan tugas on line. Memasak untuk keluarga. Jika seorang wanita bisa menjadi istri sholehah. Kesempatan mengabdikan diri dalam keluarga bagi yang biasanya menjadi wanita karier. Yang sudah terbiasa di rumah, tambah pekerjaan membantu anak belajar on line.

3.       Terhindar dari ngegosip karena dilarang berkumpul-kumpul dan jarakpun dibatasi harus 1 meter atau lebih.

4.       Cafe-cafe ditutup. Alhamdulillah sehingga tidak ada anak-anak nongkrong membuang waktu hingga subuh di cafe sambil main gawai/game

b. NEGATIF

1. Tidak ada pemasukan jika yang bekerja harian, misalnya para pedagang keliling/di pasar. Meski ada, jelas berkurang, karena tidak banyak orang yang berani keluar rumah jika tidak terpaksa

 INNALLOHA MA’ANA

 

Prolog

Tak ada yang bercita-cita ingin menjadi janda

Status janda yang selalu menjadi sorotan

Tak ada rasa bagaimana dia yang merasakan

Menjadi janda tidaklah mudah

Karena harus menjadi dua peran sekaligus

Sebagai ayah pencari nafkah

Dan sebagai ibu sebagai pendidik utama anak-anaknya

Jika mau memikirkan secara mendalam

Sebenarnya sangat kasihan seorang janda itu

Kadang justru banyak yang melecehkan

Karena memang kurang berhati-hati membawa diri

Maka …

Jika menjadi janda baik ditinggal menghadap Yang Esa oleh suami

Ataupun karena perceraian …

Berat beban yang harus disandang

Harus berhati-hati dalam bertingkah laku

Apa yang dilakukan Bunda Nida setelah menjadi janda

Karena sang suami menghadap Alloh terlebih dahulu

Sementara dia hanya ibu rumah tangga biasa

Sedang suami meninggalkan 4 amanah anak-anak yang masih butuh biaya

 

++++++++++

 

Hampir dua bulan Bunda Nida merawat suaminya yang sedang sakit lambung di Rumah Sakit, terpaksa menitipkan ketiga anaknya ke bude. Karena anak pertama sudah bisa menggantikan Bunda untuk menunggu di Rumah Sakit. Bunda yang jaga malam hingga pagi pulang untuk bekerja hingga jam 11.00 menggantikan anaknya yang harus sekolah. Begitu selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Jadi pondok Ramadan di Rumah Sakit. Karena Hari Raya Idul Fitri dokternya cuti semua kecuali yang jaga, maka terpaksa pulang meskipun belum sembuh benar.

Seminggu di rumah kambuh lagi, justru lebih parah hingga langsung masuk ICU. Ternyata kata anak-anak pernah mencuri-curi kue lebaran seperti jeli dan kacang coklat yang disimpan Bunda Nida. Hehehe … Kenapa disimpan? Karena sang suami sakit lambung yang tidak boleh makan sembarang. Yah … maksud Bunda baik agar bisa sembuh demi anak-anak, justru beliau tidak bisa menahan diri. Maklum selama 1 bulan di Rumah Sakit, lambungnya diistirahatkan tidak boleh makan apa-apa kecuali susu dari Rumah Sakit.

Seminggu di ICU akhirnya dipindah ke kamar isolasi karena sering sakraw. Hari pertama di kamar isolasi Bunda Nida sendirian, ada dua bed sih … tapi b, Bunda Nida konsultasi ke teman-teman jamaah tidak boleh, karena kondisinya sudah kritis jika terjadi sesuatu nanti membahayakan aqidah. Setelah melalui berdebatan dan rayuan akhirnya suaminya mau ke Rumah Sakit yang lain.

Di dalam ambulans hanya Bunda Nida, anak pertama dan perawat serta sopir tentunya. Ada kejadian yang menegangkan, masih beberapa kilo sampai di Rumah Sakit tujuan, gas oksigennya habis, padahal selama ini beliau sangat bergantung pada oksigen. Alhamdulillah bisa tahan sampai Rumah Sakit tujuan sudah malam, karena berangkat setelah maghrib. Sampai di sana langsung di tes ulang semuanya di UGD, ketahuan hasil rontgen ternyata lambungnya berlubang-lubang banyak, sariawam lambung katanya. Pantesan tidak bisa diisi makanan.

Setelah selesai pemeriksaan, diberikanlah resep hanya 1 obat, tapi berapa harganya? Woow keren … menurut Bunda Nida yang orang desa belum pernah ke Rumah Sakit, harga obat tersebut adalah 1,5 jt. Alhamdulillah boleh membeli setengah, dengan pertimbangan untuk uji cob ajika cocok nanti bisa dibeli lagi besok kata dokter. Pertimbangan lain juga dana yang dibawa Bunda Nida malam itu kayaknya tidak cukup untuk membeli semuanya. Padahal beliau gratis sebenarnya, tapi untuk usaha kesembuhan bisa membeli obat yang tidak ada di daftar gratis.

Nah, malam itu juga obatnya diminum setelah mendapat kamar di lantai 2. Betapa kaget Bunda Nida ketika pagi harinya mengganti pampers, ada bercak darah segar di situ, selama ini tidak ada keluar sedikitpun darah padahal diduga penyakit suaminya adalah pendarahan lambung.

Saat pemeriksaan dokter, dokternya kaget dan memberitahu Bunda Nida bahwa itu artinya pembuluh darah di hatinya sudah pecah. Kalau sudah demikian bisa menyebar kemana-mana, ke jantung, ke otak dst. Jalan satu-satunya adalah cangkok hati yang hanya bisa dilakukan di luar negeri dengan biaya 200 juta atau berapa Bunda Nida tidak bisa mendengar jelas. Bunda Nida pasrah berdo’a yang terbaik untuk suaminya.

 Kondisi suami Bunda Nida semakin parah, harus transfusi darah 2 kantong seperti sebelumnya sudah habis 11 kantong, kayak drakula kata perawatnya bercanda. Untuk mengambil darah harus di lantai 5 sedang Bunda Nida tidak tahu arah, Alhamdulillah ada keponakan yang kuliah di kota tersebut datang membantu segala sesuatunya.

“Aduh, pusing aku, Bunda Nida berhenti sejenak sesaat keluar dari lift menuju ke lantai 5.” Untung ditemani keponakannya, maklum orang desa belum pernah naik lift.

Alhamdulillah sangat mudah pengambilannya, karena Bunda Nida menggunakan Jamkesda waktu itu, tetepi belum selesai pengurusannya, maka harus menggunakan jaminan KTP, yang dipakai KTP keponakannya.

            Setelah mendapat 2 kantong darah Bunda Nida dan keponakannya turun. Harus melewati banyak Lorong Rumah Sakit untuk sampai di kamar sang suami. Bunda pernah terlewat, setelah itu jika keluar untuk mengurus surat atau mengambil obat, Bunda mengingat-ingat dimana dia harus belok biar tidak salah lagi. Sungguh perjuangan yang membutuhkan kesabaran. Alhamdulillah bayarnya memakai kertas, jadi harus banyak fotocopy yang antri dan jauh tempatnya. Sesampai di kamar rawat, darah diserahkan perawat dan disimpan di kulkas tidak langsung diberikan. Entah kenapa?

            Selama di sana Bunda Nida tidak enak makan. Hari kedua dibawakan keponakannya yang tinggal di kota itu nasi, sayur asem khas kota itu dan ikan bandeng kesukaan, tidak selera sama sekali. Karena memikirkan kondisi suaminya yang semakin parah dan sering tidak sadarkan diri. Bunda terus mengompres kepala dan perutnya yang  membesar.

            Hari ketiga, ketika Bunda menuntun suaminya sholat subuh, kondisinya sangat parah, sehingga sholat subuhnya selesai atau tidak keburu tak sadarkan diri. Bunda Nida meminta bantuan saudara yang ada di kota itu untuk menemani karena beliau sendirian, anaknya pulang ke desa karena kecapean. Sekitar pukul 09.00 keadaan semakin kritis, Bunda memanggil dokter, ketika diperiksa dokter katanya sudah meninggal. Dokter masih berusaha menggenjot dada kalau-kalau masih bisa diselamatkan. Tetapi takdir sudah tertulis di Lauhul Mahfud. Hari itu Selasa jam 09.00 suami Bunda Nida menghembuskan nafas terakhir dengan meninggalkan istri dan 4 putra putri yang masih kecil-kecil.

            “Innalillahi wa inna ilaihi roji,un,” isak Bunda Nida. Karena Bunda Nida paham akan agama sehingga beliau tidak meratapi kepergian suaminya agar jasadnya tenang di jalan-Nya.

            Keponakannya segera dipanggil dan datang beberapa keluarga yang tinggal di sana untuk membantu pengurusan pemulangan jenazah, juga keluarga di rumah dihubunginya kapan kira-kira sampai di rumah. Bunda Nida tidak membolehkan jenazah di mandikan di Rumah Sakit, nanti di rumah saja. Alhamdulillah sangat mudah, sehingga sampai di rumah pukul 15.00 langsung dimandikan, dikafani, disholati dan dimakamkan.

            Panas dingin tubuh Bunda Nida karena kecapean selama mengurusi sang suami. Alhamdulillah selama suami sakit, Bunda Nida selalu disampingnya. Bunda Nida tidak pernah membayangkan jika suaminya akan meninggalakan mereka secepat itu.

 Sejak hari itu Bunda Nida menyandang status baru yaitu janda atau istilah kerennya single parent. Sebuah kata yang indah, namun berat menjalaninya, jika tidak dengan keimanan yang senantiasa diperbaharui. Karena apa, menjadi janda/single parent sudah berat beban yang di pundaknya, kadang dilecehkan pula status janda. Tidak semua janda sih … yang dilecehkan, banyak janda sholehah juga. Namun, harus tetap hati-hati dalam bertingkah laku.

Sadar akan tanggungjawab besar mendidik dan membesarkan keempat buah hatinya yang masih sekolah semua, Bunda Nida tak berani jauh dari Alloh. Bunda Nida nempel terus kepada Alloh. Siapa yang akan menolong selain Alloh? Dengan menempel, berdo’a dan memohon pertolongan Alloh, Alloh akan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk mengurus berbagai urusan manusia. Sebagaimana dalam surat Fatir surat ke-35 ayat  1 :

 

“Segala puji bagi Alloh Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Alloh menambahkan pada  ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

Dilanjut ayat kedua lebih menentramkan hati Bunda Nida :

 

            “Apa saja diantara rahmat Alloh yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya dan apa yang ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

 

            Setelah menemukan ayat tersebut ketika membuka Al Qur’an acak, tentramlah hati Bunda Nida dari kegalauan masa depan anak-anaknya. Demikian seterusnya sampai sekarang jika Bunda Nida mendapat masalah, Bunda membuka Al Qur’an acak, sebuah ilmu yang awalnya diberitahu seorang teman ketika Bunda konsultasi permasalahannya. Yang kemudian Bunda Nida mendapat ilmu yang sama seperti itu yang disebut ilmu Garputala yaitu ikut bergetarnya benda karena bergetarnya benda lain kurang lebih demikian intinya. Garputala di sini dengan Al Qur’an, ketika hati kita bergetar karena mendapat permasalah-permasalah kehidupan, maka ambil wudhu, sholat lalu buka Al Qur’an secara acak, lihat dan baca ayat pertama yang terlihat mata. Baca dan tadaburi kalau belum menemukan jawabannya, baca ayat sebelum dan sesudahnya.

            “Coba buka Al Qur’an acak disitu nanti ada jawaban setiap permasalahan kehidupan,” saran temannya.

            Selain itu ketika membaca biasa sesuai urutan membaca harian, Bunda Nida selalu membaca terjemahnya, juga sering mendapati jawabannya di situ. Begitulah Al Qur’an memang merupakan petunjuk dan aturan kehidupan bagi ummat manusia. Apalagi sebagai single parent Bunda Nida harus berpikir sendiri dalam segala hal, maka Al Qur’an satu-satunya tempat pertama mencari solusi untuk mendapat pertolongan Alloh.

            Masalah pertama datang ketika anak kedua lulus kelas 6 SD, dan harus memasuki sekolah lanjutan pertama. Bunda Nida ini anak-anaknya mendapat Pendidikan terbaik karena beliau tidak mampu mendidik sendirian, apalagi di jaman sekarang ini. Yaitu ingin semua anak-anaknya bisa mondok sambil sekolah, masalahnya apakah mampu Bunda Nida yang hanya ibu rumah tangga biasa memasukkan anak-anaknya ke pondok, yang biayanya sangat mahal?

            “Oh iya, aku ingat ada buletin itu,” bisik Bunda Nida dalam hati . buletin yang di dapat ketika merawat suaminya di Rumah Sakit masih disimpannya. Bergegas beliau mencari di almari buku. Alhamdulillah ditemukannya.

            Beliau cari-cari halaman yang memuat pendaftaran sebuah pondok pesantren sekaligus SMP.

            “Alhamdulillah, ini dia.”

            Dicermati format pendaftaran itu dengan seksama oleh Bunda Nida, beliau temukan untuk anak yatim gratis.

            “Ya Alloh, semoga bisa masuk.”

            Bunda mencari kontak yang bisa dihubungi, waktu itu masih melalui sms, belum seperti sekarang. Beliau pilih yang paling atas. Beliau hubungi pagi hari, lama tidak dibalas. Agak sore baru di balas.

            “Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu, maaf baru bisa balas, tadi banyak pasien,” demikian isi balasannya.

            Alhamdulillah, ada respon baik. Untuk Langkah selanjutnya disuruh mengikuti prosedur pendaftaran sampai tes, jika lolos tes bisa diproses lebih lanjut InsyaAlloh bisa gratis.

            Ternyata nih, yang di sms Bunda Nida adalah Pimpinan Pondok sendiri, Bunda Nida tidak tahu sebelumnya. Kalau tahu mana berani. Alloh yang menunjukkan jalannya. Terima kasih Ya Alloh, Engkau Maha Tahu segala yang hamba butuhkan.

            Selanjutnya Bunda Nida mencari informasi lokasinya melalui tetangga yang tinggal di daerah tersebut. Karena selama menikah Bunda Nida tidak pernah keluar kota, sibuk dengan pekerjaan dan repot dengan anak-anak yang setiap 5 tahun mempunyia baby. Dan kali ini setelah ditinggal sang suami Bunda Nida terpaksa harus keluar kota dan kemanapun sendiri, harus tangguh dan bisa mengurus semua keperluan pendidikan anak-anak.

            Setelah ketemu lokasinya, tiba waktu tes, saat pertama Bunda Nida mengawali peran barunya keluar kota. Pertama kali sih tidak, maksudnya dulu selagi muda sering ke luar kota, namun setelah menikah sampai suaminya meninggal tidak pernah lagi naik kendaraan umum. Agak bingung dan merasa bodoh, padahal sebenarnya beliau juga sarjana lo … maklum lama gak menginjak dunia luar, hanya sebagai ibu rumah tangga … hehehe.

            Bunda Nida naik bus bersama putrinya yang mau mondok dan sekolah SMPA, Alhamdulillah anaknya mau mondok. Karena jauh, nanti menginap di rumah saudara yang dekat lokasi. Sesampai di tempat yang ditentukan untuk turun dari bus, Bunda Nida dijemput oleh saudaranya untuk menginap karena tesnya besoknya.

            Nunggunya salah pula, yah … persis seperti dalam film ada orang desa yang pergi ke Jakarta, salah turun. Malu rasanya … akhirnya menyeberang agar bisa ketemu dengan penjemput.

            Di dalam perjalanan menuju rumahnya, hujan sangat deras. Bunda Nida ingat, ketika ada hujan deras berdo’a apa saja akan dikabulkan. Mulut dan hati Bunda Nida tidak berhenti komat-kamit berdo’a untuk kelancaran dan kemudahan tes putrinya besok. Serta kemudahan jika nanti diterima, karena beliau tidak sempat memikirkan sulitnya transportasi ke sana yang harus berganti-ganti kendaraan umum. Sedang beliau masih baru keluar kandang saat itu. Malamnya juga tidak berhenti berdo’a, takut jika tidak diterima, mau sekolah dimana. Bisa sih sekolah SMP Negeri, sudah bisa langsung masuk putrinya tanpa tes karena dia juara olympiade IPA waktu itu. Tapi Bunda Nida tidak mau, beliau ingin anak-anaknya mondok dan bersekolah di sekolah Islam.

            Paginya diantar keponakannya menuju lokasi tes, sedang nanti pulangnya juga dijemput untuk menginap lagi. Karena itu tadi Bunda Nida belum tahu arah dan juga beliau sejak kecil manja, terbiasa dimudahkan jadi tidak bisa jika kesulitan … hehehe … sudah tua tapi masih anak-anak tidak bisa dewasa. Itulah sebabnya beliau berusaha mencarikan Pendidikan yang terbaik untuk anak-anak ke luar kota agar mereka bisa mandiri. Semoga mereka menjadi anak-anak sholeh-sholehah yang Tangguh.

            Ketika menunggu tes, Bunda Nida berkenalan dengan sesama wali murid, ada yang dari Surabaya, Ngawi, Gresik dan ternyata banyak yang sekota dengan Bunda Nida, bahkan ada yang kenal. Alhamdulillah dari sinilah dimulainya keajaiban-keajaiban Alloh. Bunda Nida tidak jadi menginap lagi di rumah saudaranya, karena pulangnya bersama teman sekota yang membawa mobil. Diantar sampai rumah pula.

            Satu bulan kemudian tibalah pengumuman, dag dig dug hati Bunda Nida melihatnya, Alhamdulillah diterima. Sebenarnya putrinya Bunda Nida anaknya pintar selalu rangking 2 walaupun jarang rangking 1, juara olympiade pula, jadi inilah yang mendorong Bunda Nida berani menyekolahkan sekaligus mondok. Jadi kemungkinan besar memang diterima apalagi dia anak yatim.

            Tibalah waktu undangan wali murid terkait biaya Pendidikan dan lain-lain. Wali murid dipanggil satu persatu dimintai kesediaan tentang biaya Pendidikan dan jariah, waktu itu total sekitar 6 juta, biaya SPP dan makan 600 ribu perbulan. Ada beberapa meja, bunda berharap nanti pas meja Bapak Pimpinan karena yang mengetahui Bunda Nida adalah beliau terkait Acc bahwa putri Bunda bebas yang beliau tulis melalui sms. Bunda siapkan sms beliau agar beliau mengenal Bunda. Benar juga ternyata waktu Bunda dipanggil giliran meja satunya, untung masih berdekatan, sehingga Bunda langsung membuka sms dan ditunjukkan kepada ustadz yang menerima Bunda, kemudian diperlihatkan kepada Bapak Pimpinan. Alhamdulillah bebas biasa semuanya termasuk SPP dan makan. Kalau tidak bebas, apa yang untuk membiayai? Ternyata Alloh memberi ujian sekaligus memberi jalan keluar.

            Memasuki tahun ajaran baru, berangkatlah Ananda ke pondok diantar rombongan keluarga antara lain Nenek, Pakde, Bude dengan nyarter kendaraan. Karena barang bawaannya juga banyak tidak mungkin naik bus, jadi sekalian bawa keluarga biar tahu suasana pondok. Seminggu kemudian pada hari Ahad, boleh telepon ke rumah. Inilah saat dramatis yang sangat menegangkan. Ketika itu Bunda sedang ada Majelis Taklim rutin mingguan. Tiba-tiba hanphone berdering, dilihat dari putrinya, langsung diangkat.

            “Assalamu’alaikum,” sapa Bunda Nida.

            Tak ada jawaban, hanya isak tangis terdengar di ujung telepon. Putrinya menangis hebat tidak bisa dihentikan, Bunda mendengarkan dengan sabar.

            “Aku mau pulang, Bund, gak mau di sini,” kaget Bunda Nida mendengarnya. Bagaimana ini, sudah jauh-jauh hari ingin mondok, sekarang justru ingin pulang.

            “Iya, nikmati dulu, sabar dulu beberapa minggu kamu rasakan, bukankah sejak dulu kamu mau sendiri bukan dipaksa Bunda to mbak.” Bunda Nida mencoba menyegarkan suasana.

            “Iya … tapi gak enak, mau pulang … .”

            Waduh, sedih campur bingung, mau kemana kalau tidak mondok di situ.

            “Sudahlah mbak sabar dulu, jalani dengan ikhlas, Bunda juga terus mendoakanmu agar kerasan dan diberi kemudahan.”

            Akhirnya tangisnya bisa reda, dan ditutup telpunnya. Entah apa yang dirasakannya saat minggu pertama di pondok. Padahal sudah pernah berpisah beberapa hari tidur di rumah omnya dan dua kali ikut olympiade menginap tanpa Bunda. Maksudnya memang pelan-pelan sudah diajari mandiri oleh Bunda agar tidak kaget. Ternyata berbeda dengan suasana pondok yang jelas, dia akan tinggal lama, bisa ketemu tiap bulan jika menjenguk dan hanya  bisa pulang jika libur semester.

            Seiring berjalannya waktu, disertai do’a yang dipanjatkan Bunda Nida tiada henti, Alhamdulillah minggu kedua tilpun putrinya sudah tidak menangis lagi. Dan ajaib seolah tidak ada kesedihan sama sekali seperti minggu lalu. Alloh selalu bersama kita.

            Tibalah bulan puasa, ketika menghadiri undangan berbuka puasa Bunda Nida ditanya oleh teman yang ikut berbuka. Maklum Bunda Nida belum begitu kenal semuanya.

            “Bu, putrinya mondok nggih, sama anak saya juga di sana, kelas 8 sekarang,” tanya Bu Anita.

            “Nggih bu, baru masuk tahun ini,” jawab Bunda Nida.

            “Besok kalau menjenguk bareng sama saya saja bu,” lanjut Bu Anita.

            “Oh, iya Jazakila khoiro,” jawab Bunda Nida dengan gembiranya.

            Alhamdulillah Ya Alloh keajaiban-keajaiban terus berdatangan. Semenjak saat itu, setiap bulan selama SMP – SMA kurang lebih 5 tahun karena putrinya beda 1 tahun, Bunda Nida mendapat tumpangan gratis pulang pergi. Inilah malaikat yang dikirimkan Alloh untuk keluarga Bunda Nida sebagaimana tercantum dalam surat Fatir ayat 1 tersebut di atas.

            Belum lagi keajaiban selalu datang di saat Bunda Nida membutuhkan, misalnya di saat mau memasak nasi, ketika persediaan beras tinggal 1 hari atau habis, Bunda Nida bilang ke Alloh.

            “Ya Alloh berasnya habis.”

            Keesokan harinya selalu ada rezeki beras yang dikirmkan Alloh melalui hamba-hamba-Nya yagn digerakkan hatinya.

            Tibalah kelulusan SMA putrinya, bingung mau kuliah gimana nanti biayanya. Kalau biaya kuliah masih bisa berusaha belajar keras untuk meraih beasiswa. Tetapi untuk biaya hidup bagiamana, Bunda Nida belum bisa mendapatkan pekerjaan atau penghasilan untuk menghidupi putra-putrinya, menghidupi dirinya sendiri saja beliau belum bisa.

            Alhamdulillah, entah bagaimana caranya … Alloh tentunya yang mengirimkan malaikat lagi. Ada Abinya temannya yang berbaik hati, menyediakan tempat tinggal jika mau kuliah di kota mereka. Untuk biaya kuliah nanti diusahakan, dicarikan beasiswa. Akhirnya ketika pendaftaran UTBK putri Bunda Nida belajar keras agar bisa diterima di Perguruan Tinggi yang diminta beliau. Selain itu juga berusaha mengajukan Bidikmisi.

            Alhamdulillah diterima di Perguruan Tinggi tersebut, namun … ternyata lokasinya di kampus II di luar kota. Jadi tidak bisa tinggal di tempat yang semula sudah disediakan. Akhirnya dicarikan tempat tinggal kenalan Abinya, dapatlah di rumah orang sholeh super baik. Lagi-lagi Alloh mengirimkan malaikat-Nya … Innalloha ma ‘ana … .

            Dua hari sebelum MABA, putri Bunda Nida berangkat menuju rumah temannya, keesokan harinya diantar ke tempat yang dekat dengan kampus. Waktu itu hari Jum’at, ketika mencari alamat, lama sekali  ditunggu Bapak yang punya rumah untuk menunjukkan lokasi tidak muncul-muncul. Mereka satu rombongan, putri Bunda Nida, sahabatnya dan Abinya bingung, akhirnya muncullah beliau yang ditunggu-tunggu.

            “Maaf, Pak lama menunggu,” kata Pak Ahmad.

            “Ini saya tadi … Alhamdulillah tiba-tiba mendapat rezeki yang banyak, sehingga nanti bisa membuatkan kamar untuk adiknya,” lanjut Pak Ahmad.

            “Alhamdulillah,” serentak rombongan mengucap syukur.

            Alhamdulillah … belum juga putrinya Bunda Nida masuk ke rumah Pak Ahmad, Alloh sudah membalas kebaikannya. Karena menolong anak yatim.

            Ini diceritakan putri Bunda Nida siang itu setelah masuk rumah Pak Ahmad.

            Sorenya Bunda Nida menelepon Bu Ahmad, bermaksud menitipkan putrinya selama di sana. Dan menanyakan berapa biaya kostnya. Alhamdulillah Alloh menambah nikmat-Nya lagi, kata Bu Ahmad tidak perlu membayar karena anak yatim.

            “Terimakasih Ya Alloh atas segala karunia-Mu yang tiada bisa hamba hitung. Semoga Engkau balas semua orang yang telah, sedang menolong kami sekeluarga.”

            “Semoga Engkau balas Keluarga Sahabat puttinya dan keluarga Pak Ahmad dengan rezeki yang banyak, mengalir dan barokah.”

            “Semoga Engkau muliakan mereka baik di dunia dan di akhirat.” Aamiin

Bunda Nida mengakhiri do’anya sambil  berurai airmatanya membasahi sajadahnya

 

 

           

           

Minggu, 17 Januari 2021

MERAJUT KASIH

 Malang nian gadis cantik ini, karena salah melangkah. Kasihan sekali nasibnya, terperosok ke dalam jurang kehancuran. Pengaruh rusaknya pergaulan dan rusaknya tatanan kehidupan akibat arus perkembangan teknologi gadget. Sebenarnya ada dua pilihan, sisi positif atau negatif yang ingin diambil dari dampak teknologi yang masif ini. Kebanyakan yang sangat berpengaruh adalah yang negatif.

Jika tidak diimbangi dengan keimanan yang kuat, maka terperosoklah ke dalam pergaulan yang salah. Penyesalan di kemudian hari tiada berguna. Terlambat!

@@@

Seminggu hingga dua minggu Dinda menanti balasan surat dari Faizal yang kuliah di luar negeri. Maklum jaman dahulu hanya surat sebagai alat komunikasi mereka. Tahun 90an belum ada gadget canggih seperti sekarang ini yang bila rindu tinggal vidio call langsung bisa komunikasi.


To be continued