INNALLOHA MA’ANA
Prolog
Tak
ada yang bercita-cita ingin menjadi janda
Status
janda yang selalu menjadi sorotan
Tak
ada rasa bagaimana dia yang merasakan
Menjadi
janda tidaklah mudah
Karena
harus menjadi dua peran sekaligus
Sebagai
ayah pencari nafkah
Dan
sebagai ibu sebagai pendidik utama anak-anaknya
Jika
mau memikirkan secara mendalam
Sebenarnya
sangat kasihan seorang janda itu
Kadang
justru banyak yang melecehkan
Karena
memang kurang berhati-hati membawa diri
Maka
…
Jika
menjadi janda baik ditinggal menghadap Yang Esa oleh suami
Ataupun
karena perceraian …
Berat
beban yang harus disandang
Harus
berhati-hati dalam bertingkah laku
Apa
yang dilakukan Bunda Nida setelah menjadi janda
Karena
sang suami menghadap Alloh terlebih dahulu
Sementara
dia hanya ibu rumah tangga biasa
Sedang
suami meninggalkan 4 amanah anak-anak yang masih butuh biaya
++++++++++
Hampir dua bulan Bunda Nida merawat
suaminya yang sedang sakit lambung di Rumah Sakit, terpaksa menitipkan ketiga
anaknya ke bude. Karena anak pertama sudah bisa menggantikan Bunda untuk
menunggu di Rumah Sakit. Bunda yang jaga malam hingga pagi pulang untuk bekerja
hingga jam 11.00 menggantikan anaknya yang harus sekolah. Begitu selama satu
bulan penuh di bulan Ramadan. Jadi pondok Ramadan di Rumah Sakit. Karena Hari
Raya Idul Fitri dokternya cuti semua kecuali yang jaga, maka terpaksa pulang
meskipun belum sembuh benar.
Seminggu di rumah kambuh lagi,
justru lebih parah hingga langsung masuk ICU. Ternyata kata anak-anak pernah
mencuri-curi kue lebaran seperti jeli dan kacang coklat yang disimpan Bunda
Nida. Hehehe … Kenapa disimpan? Karena sang suami sakit lambung yang tidak
boleh makan sembarang. Yah … maksud Bunda baik agar bisa sembuh demi anak-anak,
justru beliau tidak bisa menahan diri. Maklum selama 1 bulan di Rumah Sakit,
lambungnya diistirahatkan tidak boleh makan apa-apa kecuali susu dari Rumah
Sakit.
Seminggu di ICU akhirnya dipindah ke kamar isolasi karena sering sakraw. Hari pertama di kamar isolasi Bunda Nida sendirian, ada dua bed sih … tapi b, Bunda Nida konsultasi ke teman-teman jamaah tidak boleh, karena kondisinya sudah kritis jika terjadi sesuatu nanti membahayakan aqidah. Setelah melalui berdebatan dan rayuan akhirnya suaminya mau ke Rumah Sakit yang lain.
Di dalam ambulans hanya Bunda Nida, anak pertama dan perawat serta sopir tentunya. Ada kejadian yang menegangkan, masih beberapa kilo sampai di Rumah Sakit tujuan, gas oksigennya habis, padahal selama ini beliau sangat bergantung pada oksigen. Alhamdulillah bisa tahan sampai Rumah Sakit tujuan sudah malam, karena berangkat setelah maghrib. Sampai di sana langsung di tes ulang semuanya di UGD, ketahuan hasil rontgen ternyata lambungnya berlubang-lubang banyak, sariawam lambung katanya. Pantesan tidak bisa diisi makanan.
Setelah selesai pemeriksaan, diberikanlah
resep hanya 1 obat, tapi berapa harganya? Woow keren … menurut Bunda Nida yang
orang desa belum pernah ke Rumah Sakit, harga obat tersebut adalah 1,5 jt.
Alhamdulillah boleh membeli setengah, dengan pertimbangan untuk uji cob ajika
cocok nanti bisa dibeli lagi besok kata dokter. Pertimbangan lain juga dana
yang dibawa Bunda Nida malam itu kayaknya tidak cukup untuk membeli semuanya.
Padahal beliau gratis sebenarnya, tapi untuk usaha kesembuhan bisa membeli obat
yang tidak ada di daftar gratis.
Nah, malam itu juga obatnya diminum
setelah mendapat kamar di lantai 2. Betapa kaget Bunda Nida ketika pagi harinya
mengganti pampers, ada bercak darah segar di situ, selama ini tidak ada keluar
sedikitpun darah padahal diduga penyakit suaminya adalah pendarahan lambung.
Saat pemeriksaan dokter, dokternya kaget
dan memberitahu Bunda Nida bahwa itu artinya pembuluh darah di hatinya sudah
pecah. Kalau sudah demikian bisa menyebar kemana-mana, ke jantung, ke otak dst.
Jalan satu-satunya adalah cangkok hati yang hanya bisa dilakukan di luar negeri
dengan biaya 200 juta atau berapa Bunda Nida tidak bisa mendengar jelas. Bunda
Nida pasrah berdo’a yang terbaik untuk suaminya.
Kondisi
suami Bunda Nida semakin parah, harus transfusi darah 2 kantong seperti
sebelumnya sudah habis 11 kantong, kayak drakula kata perawatnya bercanda.
Untuk mengambil darah harus di lantai 5 sedang Bunda Nida tidak tahu arah,
Alhamdulillah ada keponakan yang kuliah di kota tersebut datang membantu segala
sesuatunya.
“Aduh, pusing aku, Bunda Nida berhenti
sejenak sesaat keluar dari lift menuju ke lantai 5.” Untung ditemani
keponakannya, maklum orang desa belum pernah naik lift.
Alhamdulillah sangat mudah pengambilannya,
karena Bunda Nida menggunakan Jamkesda waktu itu, tetepi belum selesai
pengurusannya, maka harus menggunakan jaminan KTP, yang dipakai KTP
keponakannya.
Setelah mendapat 2 kantong darah
Bunda Nida dan keponakannya turun. Harus melewati banyak Lorong Rumah Sakit
untuk sampai di kamar sang suami. Bunda pernah terlewat, setelah itu jika
keluar untuk mengurus surat atau mengambil obat, Bunda mengingat-ingat dimana
dia harus belok biar tidak salah lagi. Sungguh perjuangan yang membutuhkan
kesabaran. Alhamdulillah bayarnya memakai kertas, jadi harus banyak fotocopy
yang antri dan jauh tempatnya. Sesampai di kamar rawat, darah diserahkan
perawat dan disimpan di kulkas tidak langsung diberikan. Entah kenapa?
Selama di sana Bunda Nida tidak enak
makan. Hari kedua dibawakan keponakannya yang tinggal di kota itu nasi, sayur
asem khas kota itu dan ikan bandeng kesukaan, tidak selera sama sekali. Karena
memikirkan kondisi suaminya yang semakin parah dan sering tidak sadarkan diri.
Bunda terus mengompres kepala dan perutnya yang
membesar.
Hari ketiga, ketika Bunda menuntun
suaminya sholat subuh, kondisinya sangat parah, sehingga sholat subuhnya
selesai atau tidak keburu tak sadarkan diri. Bunda Nida meminta bantuan saudara
yang ada di kota itu untuk menemani karena beliau sendirian, anaknya pulang ke
desa karena kecapean. Sekitar pukul 09.00 keadaan semakin kritis, Bunda
memanggil dokter, ketika diperiksa dokter katanya sudah meninggal. Dokter masih
berusaha menggenjot dada kalau-kalau masih bisa diselamatkan. Tetapi takdir
sudah tertulis di Lauhul Mahfud. Hari itu Selasa jam 09.00 suami Bunda Nida
menghembuskan nafas terakhir dengan meninggalkan istri dan 4 putra putri yang
masih kecil-kecil.
“Innalillahi wa inna ilaihi
roji,un,” isak Bunda Nida. Karena Bunda Nida paham akan agama sehingga beliau
tidak meratapi kepergian suaminya agar jasadnya tenang di jalan-Nya.
Keponakannya segera dipanggil dan
datang beberapa keluarga yang tinggal di sana untuk membantu pengurusan
pemulangan jenazah, juga keluarga di rumah dihubunginya kapan kira-kira sampai
di rumah. Bunda Nida tidak membolehkan jenazah di mandikan di Rumah Sakit,
nanti di rumah saja. Alhamdulillah sangat mudah, sehingga sampai di rumah pukul
15.00 langsung dimandikan, dikafani, disholati dan dimakamkan.
Panas dingin tubuh Bunda Nida karena
kecapean selama mengurusi sang suami. Alhamdulillah selama suami sakit, Bunda
Nida selalu disampingnya. Bunda Nida tidak pernah membayangkan jika suaminya
akan meninggalakan mereka secepat itu.
Sejak hari itu Bunda Nida menyandang status
baru yaitu janda atau istilah kerennya single parent. Sebuah kata yang indah,
namun berat menjalaninya, jika tidak dengan keimanan yang senantiasa
diperbaharui. Karena apa, menjadi janda/single parent sudah berat beban yang di
pundaknya, kadang dilecehkan pula status janda. Tidak semua janda sih … yang
dilecehkan, banyak janda sholehah juga. Namun, harus tetap hati-hati dalam
bertingkah laku.
Sadar akan tanggungjawab besar mendidik
dan membesarkan keempat buah hatinya yang masih sekolah semua, Bunda Nida tak
berani jauh dari Alloh. Bunda Nida nempel terus kepada Alloh. Siapa yang akan
menolong selain Alloh? Dengan menempel, berdo’a dan memohon pertolongan Alloh,
Alloh akan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk mengurus berbagai urusan
manusia. Sebagaimana dalam surat Fatir surat ke-35 ayat 1 :
“Segala puji bagi Alloh Pencipta langit
dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus
berbagai urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan
empat. Alloh menambahkan pada
ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Alloh Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”
Dilanjut
ayat kedua lebih menentramkan hati Bunda Nida :
“Apa saja diantara rahmat Alloh yang
dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya dan apa yang
ditahan-Nya, maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan
Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Setelah menemukan ayat tersebut
ketika membuka Al Qur’an acak, tentramlah hati Bunda Nida dari kegalauan masa
depan anak-anaknya. Demikian seterusnya sampai sekarang jika Bunda Nida
mendapat masalah, Bunda membuka Al Qur’an acak, sebuah ilmu yang awalnya
diberitahu seorang teman ketika Bunda konsultasi permasalahannya. Yang kemudian
Bunda Nida mendapat ilmu yang sama seperti itu yang disebut ilmu Garputala
yaitu ikut bergetarnya benda karena bergetarnya benda lain kurang lebih
demikian intinya. Garputala di sini dengan Al Qur’an, ketika hati kita bergetar
karena mendapat permasalah-permasalah kehidupan, maka ambil wudhu, sholat lalu
buka Al Qur’an secara acak, lihat dan baca ayat pertama yang terlihat mata.
Baca dan tadaburi kalau belum menemukan jawabannya, baca ayat sebelum dan
sesudahnya.
“Coba buka Al Qur’an acak disitu
nanti ada jawaban setiap permasalahan kehidupan,” saran temannya.
Selain itu ketika membaca biasa
sesuai urutan membaca harian, Bunda Nida selalu membaca terjemahnya, juga
sering mendapati jawabannya di situ. Begitulah Al Qur’an memang merupakan
petunjuk dan aturan kehidupan bagi ummat manusia. Apalagi sebagai single parent
Bunda Nida harus berpikir sendiri dalam segala hal, maka Al Qur’an satu-satunya
tempat pertama mencari solusi untuk mendapat pertolongan Alloh.
Masalah pertama datang ketika anak
kedua lulus kelas 6 SD, dan harus memasuki sekolah lanjutan pertama. Bunda Nida
ini anak-anaknya mendapat Pendidikan terbaik karena beliau tidak mampu mendidik
sendirian, apalagi di jaman sekarang ini. Yaitu ingin semua anak-anaknya bisa
mondok sambil sekolah, masalahnya apakah mampu Bunda Nida yang hanya ibu rumah
tangga biasa memasukkan anak-anaknya ke pondok, yang biayanya sangat mahal?
“Oh iya, aku ingat ada buletin itu,”
bisik Bunda Nida dalam hati . buletin yang di dapat ketika merawat suaminya di
Rumah Sakit masih disimpannya. Bergegas beliau mencari di almari buku.
Alhamdulillah ditemukannya.
Beliau cari-cari halaman yang memuat
pendaftaran sebuah pondok pesantren sekaligus SMP.
“Alhamdulillah, ini dia.”
Dicermati format pendaftaran itu
dengan seksama oleh Bunda Nida, beliau temukan untuk anak yatim gratis.
“Ya Alloh, semoga bisa masuk.”
Bunda mencari kontak yang bisa
dihubungi, waktu itu masih melalui sms, belum seperti sekarang. Beliau pilih
yang paling atas. Beliau hubungi pagi hari, lama tidak dibalas. Agak sore baru
di balas.
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi
wabarokatu, maaf baru bisa balas, tadi banyak pasien,” demikian isi balasannya.
Alhamdulillah, ada respon baik.
Untuk Langkah selanjutnya disuruh mengikuti prosedur pendaftaran sampai tes,
jika lolos tes bisa diproses lebih lanjut InsyaAlloh bisa gratis.
Ternyata nih, yang di sms Bunda Nida
adalah Pimpinan Pondok sendiri, Bunda Nida tidak tahu sebelumnya. Kalau tahu
mana berani. Alloh yang menunjukkan jalannya. Terima kasih Ya Alloh, Engkau
Maha Tahu segala yang hamba butuhkan.
Selanjutnya Bunda Nida mencari
informasi lokasinya melalui tetangga yang tinggal di daerah tersebut. Karena
selama menikah Bunda Nida tidak pernah keluar kota, sibuk dengan pekerjaan dan
repot dengan anak-anak yang setiap 5 tahun mempunyia baby. Dan kali ini setelah
ditinggal sang suami Bunda Nida terpaksa harus keluar kota dan kemanapun
sendiri, harus tangguh dan bisa mengurus semua keperluan pendidikan anak-anak.
Setelah ketemu lokasinya, tiba waktu
tes, saat pertama Bunda Nida mengawali peran barunya keluar kota. Pertama kali
sih tidak, maksudnya dulu selagi muda sering ke luar kota, namun setelah
menikah sampai suaminya meninggal tidak pernah lagi naik kendaraan umum. Agak
bingung dan merasa bodoh, padahal sebenarnya beliau juga sarjana lo … maklum
lama gak menginjak dunia luar, hanya sebagai ibu rumah tangga … hehehe.
Bunda Nida naik bus bersama putrinya
yang mau mondok dan sekolah SMPA, Alhamdulillah anaknya mau mondok. Karena
jauh, nanti menginap di rumah saudara yang dekat lokasi. Sesampai di tempat
yang ditentukan untuk turun dari bus, Bunda Nida dijemput oleh saudaranya untuk
menginap karena tesnya besoknya.
Nunggunya salah pula, yah … persis
seperti dalam film ada orang desa yang pergi ke Jakarta, salah turun. Malu
rasanya … akhirnya menyeberang agar bisa ketemu dengan penjemput.
Di dalam perjalanan menuju rumahnya,
hujan sangat deras. Bunda Nida ingat, ketika ada hujan deras berdo’a apa saja
akan dikabulkan. Mulut dan hati Bunda Nida tidak berhenti komat-kamit berdo’a
untuk kelancaran dan kemudahan tes putrinya besok. Serta kemudahan jika nanti
diterima, karena beliau tidak sempat memikirkan sulitnya transportasi ke sana
yang harus berganti-ganti kendaraan umum. Sedang beliau masih baru keluar
kandang saat itu. Malamnya juga tidak berhenti berdo’a, takut jika tidak
diterima, mau sekolah dimana. Bisa sih sekolah SMP Negeri, sudah bisa langsung
masuk putrinya tanpa tes karena dia juara olympiade IPA waktu itu. Tapi Bunda
Nida tidak mau, beliau ingin anak-anaknya mondok dan bersekolah di sekolah
Islam.
Paginya diantar keponakannya menuju
lokasi tes, sedang nanti pulangnya juga dijemput untuk menginap lagi. Karena
itu tadi Bunda Nida belum tahu arah dan juga beliau sejak kecil manja, terbiasa
dimudahkan jadi tidak bisa jika kesulitan … hehehe … sudah tua tapi masih
anak-anak tidak bisa dewasa. Itulah sebabnya beliau berusaha mencarikan
Pendidikan yang terbaik untuk anak-anak ke luar kota agar mereka bisa mandiri. Semoga
mereka menjadi anak-anak sholeh-sholehah yang Tangguh.
Ketika menunggu tes, Bunda Nida
berkenalan dengan sesama wali murid, ada yang dari Surabaya, Ngawi, Gresik dan
ternyata banyak yang sekota dengan Bunda Nida, bahkan ada yang kenal.
Alhamdulillah dari sinilah dimulainya keajaiban-keajaiban Alloh. Bunda Nida
tidak jadi menginap lagi di rumah saudaranya, karena pulangnya bersama teman
sekota yang membawa mobil. Diantar sampai rumah pula.
Satu bulan kemudian tibalah
pengumuman, dag dig dug hati Bunda Nida melihatnya, Alhamdulillah diterima.
Sebenarnya putrinya Bunda Nida anaknya pintar selalu rangking 2 walaupun jarang
rangking 1, juara olympiade pula, jadi inilah yang mendorong Bunda Nida berani
menyekolahkan sekaligus mondok. Jadi kemungkinan besar memang diterima apalagi
dia anak yatim.
Tibalah waktu undangan wali murid
terkait biaya Pendidikan dan lain-lain. Wali murid dipanggil satu persatu dimintai
kesediaan tentang biaya Pendidikan dan jariah, waktu itu total sekitar 6 juta,
biaya SPP dan makan 600 ribu perbulan. Ada beberapa meja, bunda berharap nanti
pas meja Bapak Pimpinan karena yang mengetahui Bunda Nida adalah beliau terkait
Acc bahwa putri Bunda bebas yang beliau tulis melalui sms. Bunda siapkan sms
beliau agar beliau mengenal Bunda. Benar juga ternyata waktu Bunda dipanggil
giliran meja satunya, untung masih berdekatan, sehingga Bunda langsung membuka
sms dan ditunjukkan kepada ustadz yang menerima Bunda, kemudian diperlihatkan
kepada Bapak Pimpinan. Alhamdulillah bebas biasa semuanya termasuk SPP dan
makan. Kalau tidak bebas, apa yang untuk membiayai? Ternyata Alloh memberi
ujian sekaligus memberi jalan keluar.
Memasuki tahun ajaran baru,
berangkatlah Ananda ke pondok diantar rombongan keluarga antara lain Nenek,
Pakde, Bude dengan nyarter kendaraan. Karena barang bawaannya juga banyak tidak
mungkin naik bus, jadi sekalian bawa keluarga biar tahu suasana pondok. Seminggu kemudian pada hari Ahad, boleh telepon
ke rumah. Inilah saat dramatis yang sangat menegangkan. Ketika itu Bunda sedang
ada Majelis Taklim rutin mingguan. Tiba-tiba hanphone berdering, dilihat dari
putrinya, langsung diangkat.
“Assalamu’alaikum,” sapa Bunda Nida.
Tak ada jawaban, hanya isak tangis
terdengar di ujung telepon. Putrinya menangis hebat tidak bisa dihentikan,
Bunda mendengarkan dengan sabar.
“Aku mau pulang, Bund, gak mau di
sini,” kaget Bunda Nida mendengarnya. Bagaimana ini, sudah jauh-jauh hari ingin
mondok, sekarang justru ingin pulang.
“Iya, nikmati dulu, sabar dulu
beberapa minggu kamu rasakan, bukankah sejak dulu kamu mau sendiri bukan
dipaksa Bunda to mbak.” Bunda Nida mencoba menyegarkan suasana.
“Iya … tapi gak enak, mau pulang …
.”
Waduh, sedih campur bingung, mau
kemana kalau tidak mondok di situ.
“Sudahlah mbak sabar dulu, jalani
dengan ikhlas, Bunda juga terus mendoakanmu agar kerasan dan diberi kemudahan.”
Akhirnya tangisnya bisa reda, dan
ditutup telpunnya. Entah apa yang dirasakannya saat minggu pertama di pondok.
Padahal sudah pernah berpisah beberapa hari tidur di rumah omnya dan dua kali
ikut olympiade menginap tanpa Bunda. Maksudnya memang pelan-pelan sudah diajari
mandiri oleh Bunda agar tidak kaget. Ternyata berbeda dengan suasana pondok
yang jelas, dia akan tinggal lama, bisa ketemu tiap bulan jika menjenguk dan
hanya bisa pulang jika libur semester.
Seiring berjalannya waktu, disertai
do’a yang dipanjatkan Bunda Nida tiada henti, Alhamdulillah minggu kedua tilpun
putrinya sudah tidak menangis lagi. Dan ajaib seolah tidak ada kesedihan sama
sekali seperti minggu lalu. Alloh selalu bersama kita.
Tibalah bulan puasa, ketika
menghadiri undangan berbuka puasa Bunda Nida ditanya oleh teman yang ikut
berbuka. Maklum Bunda Nida belum begitu kenal semuanya.
“Bu, putrinya mondok nggih, sama
anak saya juga di sana, kelas 8 sekarang,” tanya Bu Anita.
“Nggih bu, baru masuk tahun ini,”
jawab Bunda Nida.
“Besok kalau menjenguk bareng sama
saya saja bu,” lanjut Bu Anita.
“Oh, iya Jazakila khoiro,” jawab
Bunda Nida dengan gembiranya.
Alhamdulillah Ya Alloh
keajaiban-keajaiban terus berdatangan. Semenjak saat itu, setiap bulan selama
SMP – SMA kurang lebih 5 tahun karena putrinya beda 1 tahun, Bunda Nida
mendapat tumpangan gratis pulang pergi. Inilah malaikat yang dikirimkan Alloh
untuk keluarga Bunda Nida sebagaimana tercantum dalam surat Fatir ayat 1
tersebut di atas.
Belum lagi keajaiban selalu datang
di saat Bunda Nida membutuhkan, misalnya di saat mau memasak nasi, ketika
persediaan beras tinggal 1 hari atau habis, Bunda Nida bilang ke Alloh.
“Ya Alloh berasnya habis.”
Keesokan harinya selalu ada rezeki
beras yang dikirmkan Alloh melalui hamba-hamba-Nya yagn digerakkan hatinya.
Tibalah kelulusan SMA putrinya,
bingung mau kuliah gimana nanti biayanya. Kalau biaya kuliah masih bisa
berusaha belajar keras untuk meraih beasiswa. Tetapi untuk biaya hidup
bagiamana, Bunda Nida belum bisa mendapatkan pekerjaan atau penghasilan untuk
menghidupi putra-putrinya, menghidupi dirinya sendiri saja beliau belum bisa.
Alhamdulillah, entah bagaimana
caranya … Alloh tentunya yang mengirimkan malaikat lagi. Ada Abinya temannya
yang berbaik hati, menyediakan tempat tinggal jika mau kuliah di kota mereka.
Untuk biaya kuliah nanti diusahakan, dicarikan beasiswa. Akhirnya ketika
pendaftaran UTBK putri Bunda Nida belajar keras agar bisa diterima di Perguruan
Tinggi yang diminta beliau. Selain itu juga berusaha mengajukan Bidikmisi.
Alhamdulillah diterima di Perguruan
Tinggi tersebut, namun … ternyata lokasinya di kampus II di luar kota. Jadi
tidak bisa tinggal di tempat yang semula sudah disediakan. Akhirnya dicarikan
tempat tinggal kenalan Abinya, dapatlah di rumah orang sholeh super baik.
Lagi-lagi Alloh mengirimkan malaikat-Nya … Innalloha ma ‘ana … .
Dua hari sebelum MABA, putri Bunda
Nida berangkat menuju rumah temannya, keesokan harinya diantar ke tempat yang
dekat dengan kampus. Waktu itu hari Jum’at, ketika mencari alamat, lama
sekali ditunggu Bapak yang punya rumah
untuk menunjukkan lokasi tidak muncul-muncul. Mereka satu rombongan, putri
Bunda Nida, sahabatnya dan Abinya bingung, akhirnya muncullah beliau yang
ditunggu-tunggu.
“Maaf, Pak lama menunggu,” kata Pak
Ahmad.
“Ini saya tadi … Alhamdulillah
tiba-tiba mendapat rezeki yang banyak, sehingga nanti bisa membuatkan kamar
untuk adiknya,” lanjut Pak Ahmad.
“Alhamdulillah,” serentak rombongan
mengucap syukur.
Alhamdulillah … belum juga putrinya
Bunda Nida masuk ke rumah Pak Ahmad, Alloh sudah membalas kebaikannya. Karena
menolong anak yatim.
Ini diceritakan putri Bunda Nida
siang itu setelah masuk rumah Pak Ahmad.
Sorenya Bunda Nida menelepon Bu
Ahmad, bermaksud menitipkan putrinya selama di sana. Dan menanyakan berapa
biaya kostnya. Alhamdulillah Alloh menambah nikmat-Nya lagi, kata Bu Ahmad
tidak perlu membayar karena anak yatim.
“Terimakasih Ya Alloh atas segala
karunia-Mu yang tiada bisa hamba hitung. Semoga Engkau balas semua orang yang
telah, sedang menolong kami sekeluarga.”
“Semoga Engkau balas Keluarga
Sahabat puttinya dan keluarga Pak Ahmad dengan rezeki yang banyak, mengalir dan
barokah.”
“Semoga Engkau muliakan mereka baik
di dunia dan di akhirat.” Aamiin
Bunda
Nida mengakhiri do’anya sambil berurai
airmatanya membasahi sajadahnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar