Maafkan Aku Masih Mencintaimu
By : d'Auliya
JANGAN MALAS BELAJAR MESKIPUN BDR
Walaupun dia bermain di mana saja, jika mendengar adzan Dhuhur
pasti pulang untuk salat jamaah di masjid depan rumahnya. Setelah sholat dilanjutkan
bermain hingga adzan salat Ashar. Pernah suatu hari mandi di sungai hingga
berganti pakaian 3 kali dalam sehari, hingga kulitnya hitam kelam. Kalau dilarang bermain di luar justru
main hanphone untuk nge-game. Sehingga bundanya membiarkan dia
bermain di luar rumah untuk bersosialisasi dengan teman dan berdamai dengan alam
daripada game terus justru tidak baik, tambah pusing Bundanya.
“Apa tugas hari ini Bun,” tanya Adit kepada bundanya setiap pagi.
“Ini buka sendiri,” jawab bundanya
sambil menyerahkan hanphone kepada Aditya.
“Sana belajar sama kakak,” saran bundanya.
“Sini dik, belajar sama aku,” ajak Kak Dea.
“Enggak mau, nanti malam saja, aku mau main,”
jawab Aditya sambil mengambil sepedanya untuk pergi main.
Pada saat yang sama, Dimas datang.
“Adit ... Adit ...,” panggil Dimas.
“Iya, sebentar ambil sepeda,” jawab
Adit.
“Yuk, kita berenang di sungai,
airnya tidak tinggi lho,” ajak Dimas.
“Nanti saja agak siang, ini masih
pagi kita main sepedahan dulu saja,” kata Adit.
“Oke, ayo berangkat!” ajak Dimas.
Tibalah waktu adzan dhuhur, sudah hampir iqamat, Adit belum
kelihatan batang hidungnya.
“Aduh, di mana Adit ya, belum juga
pulang sudah mau iqamat,” guman Kak Dea.
“Di mana mencarinya ... pasti Bunda
marah-marah nanti.”
Tak lama kemudian, datanglah Adit teburu-buru naik sepedanya.
Ia belok ke pintu
gerbang tanpa mengerem sehingga ia pun jatuh. Badannya
basah sehabis mandi di sungai.
“MasyaAllah ... Adit, cepat-cepat mandi sudah
hampir sholat nih!” seru Kak Dea.
“Iya, ya ... kak, ini mau jalan,”
sambil berlari hati-hati karena badan basah kuyup dan
tentu
sandalnya juga licin buat lari.
“Ayo, Adit ... cepat!” lagi-lagi Kak Dea memanggil Adit
yang masih di kamar mandi sambil bermain
dengan ikannya.
“Iya ... iya ... ,”
jawab Adit sambil jebar-jebur mempercepat mandinya.
Sehabis
salat cepat-cepat pulang ganti baju main, siap-siap mau main lagi.
“Adit, makan dulu,” kata kak Dea yang baru keluar dari
masjid.
“Nanti Kak, tidak lapar,” kata Adit sambil berjalan menuju
sepedanya.
Panggilan kakaknya tidak dihiraukan, karena sudah ditunnggu
teman-temannya untuk melanjutkan berenang di
sungai.
****
Ketika tiba waktu ulangan tengah
semester Adit kewalahan belajar. Karena sebelumnya dia tidak belajar
sungguh-sungguh. Padahal setiap pelajaran harus belajar dua buku tematik yaitu
tema 1 dan tema 2. Akhirnya belajarnya dipersingkat hanya membaca uji
kompetensi, karena keburu dia ngantuk kecapean bermain tidak pernah tidur
siang.
“Ayo, Dik, belajar ... besok sudah mulai ulangan lho!” ajak Kak Dea.
“Iya ... iya, Kak,” jawab Adit.
“Adit, jangan sambil rebahan
belajarnya, nanti ketiduran lagi lho ... ,” Kak
Dea mengingatkannya.
“Aduh, Adit ... tidur lagi ... tidur
lagi,” guman Kak Dea sambil memberesi buku yang
dipegang Adit biar tidak rusak.
Alhamdulillah, Adit selalu bangun subuh
dan berjamaah di masjid, sehingga belajarnya bisa dilanjut sedikit setelah
sholat subuh sampai pukul 06.00 WIB dan setelah tadarus satu halaman.
“Ayo, belajar lagi ... masih banyak
yang belum dipelajari,” kata Kak Dea.
“Baca dulu, nanti aku baca soalnya
kamu yang jawab ya,” lanjut kakaknya.
“Iya, Kak,” jawab Adit.
Pulang sekolah selalu ditanya kakaknya.
“Gimana dik bisa mengerjakan tadi
soalnya?”
“Aa ... am ... bisa, ada yang tidak
bisa.” Kalau jawabnya lama berarti dia tidak begitu bisa mengerjakan.
“Makanya, belajar yang rajin biar
bisa mengerjakan semua dan tidak bingung.”
Tidak digubris nasihat kakaknya, dia
langsung ganti baju mengambil sepeda gunungnya, kabur ... dan
bermain.
***
Tibalah pembagian rapor setelah
seminggu UTS. Kebetulan bundanya sibuk,
pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa mengambil rapor ke sekolah.
“Bunda ... tadi saya ke rumah,
rumahnya tutupan mau antar rapor Adit,” WA dari Pak Indra yang dititipi rapor
dari wali kelas.
“O ... iya, Pak ... saya masih belum
pulang,” jawab Bunda Adit.
“Biarlah Pak ... tidak usah diantar
ke rumah, besok Senin saja saya ambil, saya mau menenangkan diri dulu,
menyiapkan mental untuk melihat rapor Adit,” lanjut bundanya.
“Ya, Bunda ... saya juga shock
melihat rapornya,” jawab Pak Indra.
“Memang Adit kalau di rumah tidak
rajin belajar Pak.”
“Apalagi BDR ini, main terus mandi
di sungai hingga kulitnya hitam kelam.”
Akhirnya
pada hari Senin, bundanya mengambil rapor Adit. Melihat rapor Adit, shock juga bundanya,
karena ada 3 mata pelajaran yang di bawah KKM. Yaitu pelajaran matematika, PJOK
dan SBDP.
“Adit, sini duduk sebentar, Bunda
mau bicara.”
“Ya, Bunda.”
“Coba lihat ini rapor kamu
kebakaran.”
“Apa itu kebakaran Bunda, Adit tidak
mengerti.”
“Kebakaran itu, jelek ... kalau
zaman Bunda dulu ditulis dengan tinta merah, kalau sekarang ini, di bawah KKM.”
“Oooo ... gitu. Maafkan Adit, Bunda. Adit menyesal Bunda. Adit akan rajin belajar,” jawab Adit
menyesali perbuatannya yang hanya bermain.
“Adit berjanji akan mengerjakan
tugas dulu sebelum bermain ... suwer
Bunda,” lanjut Adit sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
***
Tulungagung, 8 November 2020
Di akhir Desember 2019 hingga tulisan ini dibuat Jum'at, 13 November 2019, seluruh dunia masih dalam kondisi darurat Covid-19. Meskipun pada umumnya sudah menurun, namun masih ada sebagian kota, khususnya kota besar yang menjadi zona merah lagi. Dikarenakan kurang maksimalnya pelaksanaan PSPB khusunsnya di Jakarta dan Surabaya. PSPB seharusnya dibuka setelah keadaan benar-benar aman. Alasan dibukanya PSPB memang sudah sesuai dengan waktu yang ditentukan yaitu 14 hari, namun jika keadaan masih belum kondusif seharusnya diperpanjang. Namun, ada alasan yang kuat mengapa PSPB dibuka adalah pemulihan ekonomi. Karena sejak pandemi keadaan ekonomi di seluruh negara ambruk, apalagi negera maju yang mana kegiatan ekonomi terpaksa berhenti karena adanya pandemi Covid-19 yang mengaharuskan semua orang di dalam rumah tidak boleh keluar rumah.
to be continued
ARTI SAHABAT
Sahabat ...
Kau hadir bagai
cahaya dalam hidupku
Perang jiwa nan hampa
Hampa karna suatu ujian
Sahabat ...
Hadirmu mengisi jiwa
Menguatkan hati nan rapuh
Setelah kehilangan belahan jiwa
Sang penopang keluarga
Sahabat ...
Kau hadir di saat yang tepak
‘Tuk menegakkan jiwa yang goyah
Andai kau tak hadir saat itu
Andai kau tidak mencariku
Apa jadinya diri ini
Tak bisa tersenyum sebelum kau hadir
Hadirmu buatku bisa tersenyum untuk pertama kali
Karna kutakut tersenyum
Begitu berat beban di pundakku
Membesarkan dan mendidik keempat buah hatiku sendirian
Kau hadir buatku percaya diri
Aku harus kuat dan tangguh
Kamu bangga denganku karna aku tak mudah digoyahkan,
katamu
Itu yang buatku percaya diri
Menapaki kenyataan hidup yang tak bisa dielak
Karna takdir Alloh pasti yang terbaik
Takdir Alloh telah terukur buat hambaNya
Alloh tak pernah salah memutuskan
Alloh Maha Pengatur
Tulungagung, 29 Oktober 2020
MERINDUIMU
Berpuluh tahun kumenanti
Hadirmu wahai kekasih pujaan
hati
Serasa airmata kering karena
menahan rindu
Rindu tiada terperi
Menantimu tak kunjung datang
Janji manismu dua kali kau
ucap dengan mudah
Seolah tiada rasa bersalah
Memberi harap tak pasti padaku
Memberi asa yang tak bisa kau
penuhi
Hingga kau merasa berdosa
padaku
Karna kau begitu mudah
berjanji
Tuk temui aku di suatu saat
nanti
Namun ... hingga kini belum
jua kau kembali
Berpuluh-puluh purnama kau tak
jua muncul
Hanya sisa cintamu yang masih
bersemayam indah di hatiku
Cintamu yang tulus namun tak
pernah mulus
Dua kali merajut kasih
Dua kali juga terputus karena
keadaan
Dan takdir pastinya
Takdir tak bisa diratapi
Karna sudah tertulis di Lauh
Mahmud
Bahwa cinta kita harus merana
Bagai cinta “Laela Majnun”
katamu
Cinta yang tulus dan suci
Hanya “All My Love for You”
yang kau ucap dua kali
Penguat cinta kita
Hingga suatu saat kita bersua
Entah kapan
Entah dimana
Alloh yang menentukan
Tulungagung, 29 Oktober 2020
Namun, waktu itu hanya 3 hari berbahagia setelah kamu menyatakan cinta ketika kamu duduk di semester 3, sedang aku tidak kuliah karena tidak ada biaya. Aku terpaksa bekerja, dan kamu tidak percaya jika aku bekerja. Meski hanya 3 hari kita bertemu karena kamu harus kembali ke tempat studimu di luar Negeri, kita lanjutkan komunikasi kita melalui surat, karena jaman itu tahun 1991 belum ada gadget seperti sekarang. Mengharu biru cinta kita, sabar menunggu balasan surat darimu, seminggu dua minggu setelah kutulis surat kepadamu. Tiada kata selain kata rindu kutulis dalam setiap surat, kamu balas dengan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan kepadamu, sungguh kamu sangat berati bagiku. Kamu mampu menumbuhkan segala yang terpendam dalam diriku, kamu segalanya bagiku waktu itu, walau tak bisa bertemu, cintamulah yang membuatku kuat dan berharap masa depan bersamamu. Was-was dan cemburu ada, tapi kamu kuatkan dengan kekuatan cinta yang kamu tanamkan. Hingga aku lupa bahwa segala kemungkinan bisa terjadi karena kita berjauhan.
Ternyata hal yang tak kuduga dan kusangka terjadi. Suatu hari aku mendengar kabar bahwa kamu tunangan, Woww...mau tahu perasaanku saat mendengar berita itu? Shock...perut langsung perih, mag kumat, lemas tiada daya...langsung aku pulang waktu itu, karena kudengar berita itu ketika aku ke rumah bulikku di dekat rumahmu.
to be contiuned
Tulugangaung, 21 Agustus 2020
2 Hijriyah 1432