Jumat, 13 November 2020

Selasa, 2 Januari 2018

Maafkan Aku Masih Mencintaimu
By : d'Auliya

 
Begitu sulit kulupakanmu
segala cara kulakukan
'Tuk melupakanmu
Namun ...
Ku bersedih di keramaian

Aku sadar
Harus segera bangkit
'Tuk menggapai asa dan citaku
Sudah setengah abad usiaku
Kuhabiskan untuk berharap padamu

Kutak habis pikir
Mengapa ya kamu begitu tega padaku
Begitu mudah berucap cinta
Begitu mudah melupakan

Aku yang bodoh
Aku yang salah
Maafkan aku
Aku tergoda bujuk rayumu
Aku terpesona kata manismu
Aku terpesona ilmumu

Sudah ...
Tak sanggup kumelanjutkan puisi ini
Kamu pasti tahu akhirnya ...


Tulungagung, 13 November 2020







Cerita Anak

JANGAN MALAS BELAJAR MESKIPUN BDR


             Adit adalah anak kelas 2 SD, yang sejak TK sulit kalau disuruh belajar sukanya main saja. Dia menjadi panutan dalam bermain dengan teman sebayanya. Apapun ide main dia, teman-temannya mengikuti. Dari lari-larian, bermain petak umpet, dilanjut berenang di sungai buatan (Lodagung) yang tidak begitu besar hingga main hujan-hujanan. Kesempatan bagi Adit di masa pandemi ini tidak belajar di sekolah, melainkan Belajar Dari Rumah yang tidak ada batasan waktu. Dia gunakan bermain seharian, padahal menurut protokol kesehatan Covid-19 kita semua termasuk anak-anak harus tinggal di rumah, tidak boleh keluar rumah apalagi bermain bersama.

Walaupun dia bermain di mana saja, jika mendengar adzan Dhuhur pasti pulang untuk salat jamaah di masjid depan rumahnya. Setelah sholat dilanjutkan bermain hingga adzan salat Ashar. Pernah suatu hari mandi di sungai hingga berganti pakaian 3 kali dalam sehari, hingga kulitnya hitam kelam. Kalau dilarang bermain di luar justru main hanphone untuk nge-game. Sehingga bundanya membiarkan dia bermain di luar rumah untuk bersosialisasi dengan teman dan berdamai dengan alam daripada game terus justru tidak baik, tambah pusing Bundanya.

            “Apa tugas hari ini Bun,” tanya Adit kepada bundanya setiap pagi.

            “Ini buka sendiri,” jawab bundanya sambil menyerahkan hanphone kepada Aditya.

            “Sana belajar sama kakak,” saran bundanya.

            “Sini dik, belajar sama aku,” ajak Kak Dea.

            “Enggak mau, nanti malam saja, aku mau main,” jawab Aditya sambil mengambil sepedanya untuk pergi main. Pada saat yang sama, Dimas datang.

            “Adit ... Adit ...,” panggil Dimas.

            “Iya, sebentar ambil sepeda,” jawab Adit.

            “Yuk, kita berenang di sungai, airnya tidak tinggi lho,” ajak Dimas.

            “Nanti saja agak siang, ini masih pagi kita main sepedahan dulu saja,” kata Adit.

            “Oke, ayo berangkat!” ajak Dimas.

Tibalah waktu adzan dhuhur, sudah hampir iqamat, Adit belum kelihatan batang hidungnya.

            “Aduh, di mana Adit ya, belum juga pulang sudah mau iqamat,” guman Kak Dea.

            “Di mana mencarinya ... pasti Bunda marah-marah nanti.

Tak lama kemudian, datanglah Adit teburu-buru naik sepedanya. Ia belok ke pintu gerbang tanpa mengerem sehingga ia pun jatuh. Badannya basah sehabis mandi di sungai.

            “MasyaAllah ... Adit, cepat-cepat mandi sudah hampir sholat nih!” seru Kak Dea.

            “Iya, ya ... kak, ini mau jalan,” sambil berlari hati-hati karena badan basah kuyup dan

tentu sandalnya juga licin buat lari.

            “Ayo, Adit ... cepat!” lagi-lagi Kak Dea memanggil Adit yang masih  di kamar mandi sambil bermain dengan ikannya.

“Iya ... iya ... ,”  jawab Adit sambil jebar-jebur mempercepat mandinya.

Sehabis salat cepat-cepat pulang ganti baju main, siap-siap mau main lagi.

“Adit, makan dulu,” kata kak Dea yang baru keluar dari masjid.

“Nanti Kak, tidak lapar,” kata Adit sambil berjalan menuju sepedanya.

Panggilan kakaknya tidak dihiraukan, karena sudah ditunnggu teman-temannya untuk melanjutkan berenang di sungai.

                                                                                               ****

            Ketika tiba waktu ulangan tengah semester Adit kewalahan belajar. Karena sebelumnya dia tidak belajar sungguh-sungguh. Padahal setiap pelajaran harus belajar dua buku tematik yaitu tema 1 dan tema 2. Akhirnya belajarnya dipersingkat hanya membaca uji kompetensi, karena keburu dia ngantuk kecapean bermain tidak pernah tidur siang.

“Ayo, Dik, belajar ... besok sudah mulai ulangan lho!” ajak Kak Dea.

“Iya ... iya, Kak,” jawab Adit.

            “Adit, jangan sambil rebahan belajarnya, nanti ketiduran lagi lho ... ,” Kak Dea mengingatkannya.

            “Aduh, Adit ... tidur lagi ... tidur lagi,” guman Kak Dea sambil memberesi buku yang dipegang Adit biar tidak rusak.

            Alhamdulillah, Adit selalu bangun subuh dan berjamaah di masjid, sehingga belajarnya bisa dilanjut sedikit setelah sholat subuh sampai pukul 06.00 WIB dan setelah tadarus satu halaman.

            “Ayo, belajar lagi ... masih banyak yang belum dipelajari,” kata Kak Dea.

            “Baca dulu, nanti aku baca soalnya kamu yang jawab ya,” lanjut kakaknya.

            “Iya, Kak,” jawab Adit.

Pulang sekolah selalu ditanya kakaknya.

            “Gimana dik bisa mengerjakan tadi soalnya?

            “Aa ... am ... bisa, ada yang tidak bisa.” Kalau jawabnya lama berarti dia tidak begitu bisa mengerjakan.

            “Makanya, belajar yang rajin biar bisa mengerjakan semua dan tidak bingung.”

            Tidak digubris nasihat kakaknya, dia langsung ganti baju mengambil sepeda gunungnya, kabur ... dan bermain.

***

            Tibalah pembagian rapor setelah seminggu UTS. Kebetulan bundanya sibuk, pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa mengambil rapor ke sekolah.

            “Bunda ... tadi saya ke rumah, rumahnya tutupan mau antar rapor Adit,” WA dari Pak Indra yang dititipi rapor dari wali kelas.

            “O ... iya, Pak ... saya masih belum pulang,” jawab Bunda Adit.

            “Biarlah Pak ... tidak usah diantar ke rumah, besok Senin saja saya ambil, saya mau menenangkan diri dulu, menyiapkan mental untuk melihat rapor Adit,” lanjut bundanya.

            “Ya, Bunda ... saya juga shock melihat rapornya,” jawab Pak Indra.

            “Memang Adit kalau di rumah tidak rajin belajar Pak.”

            “Apalagi BDR ini, main terus mandi di sungai hingga kulitnya hitam kelam.”

Akhirnya pada hari Senin, bundanya mengambil rapor Adit. Melihat rapor Adit, shock juga bundanya, karena ada 3 mata pelajaran yang di bawah KKM. Yaitu pelajaran matematika, PJOK dan SBDP.

            “Adit, sini duduk sebentar, Bunda mau bicara.”

            “Ya, Bunda.”

            “Coba lihat ini rapor kamu kebakaran.”

            “Apa itu kebakaran Bunda, Adit tidak mengerti.”

            “Kebakaran itu, jelek ... kalau zaman Bunda dulu ditulis dengan tinta merah, kalau sekarang ini, di bawah KKM.”

            “Oooo ... gitu. Maafkan Adit, Bunda. Adit menyesal Bunda. Adit akan rajin belajar,” jawab Adit menyesali perbuatannya yang hanya bermain.

            “Adit berjanji akan mengerjakan tugas dulu sebelum bermain ... suwer Bunda,” lanjut Adit sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

***

Tulungagung, 8 November 2020

RUMAHKU SEKOLAHKU

         Di akhir Desember 2019 hingga tulisan ini dibuat Jum'at, 13 November 2019, seluruh dunia masih dalam kondisi darurat Covid-19. Meskipun pada umumnya sudah menurun, namun masih ada sebagian kota, khususnya kota besar yang menjadi zona merah lagi. Dikarenakan kurang maksimalnya pelaksanaan PSPB khusunsnya di Jakarta dan Surabaya. PSPB seharusnya dibuka setelah keadaan benar-benar aman. Alasan dibukanya PSPB memang sudah sesuai dengan waktu yang ditentukan yaitu 14 hari, namun jika keadaan masih belum kondusif seharusnya diperpanjang. Namun, ada alasan yang kuat mengapa PSPB dibuka adalah pemulihan ekonomi. Karena sejak pandemi keadaan ekonomi di seluruh negara ambruk, apalagi negera maju yang mana kegiatan ekonomi terpaksa berhenti karena adanya pandemi Covid-19 yang mengaharuskan semua orang di dalam rumah tidak boleh keluar rumah.


to be continued

Kamis, 29 Oktober 2020

PUISI

                                      ARTI SAHABAT


Sahabat ...

Kau  hadir bagai cahaya dalam hidupku

Perang jiwa nan hampa

Hampa karna suatu ujian

Sahabat ...

Hadirmu mengisi jiwa

Menguatkan hati nan  rapuh

Setelah kehilangan belahan jiwa

Sang penopang keluarga

 

Sahabat ...

Kau hadir di saat yang tepak

‘Tuk menegakkan jiwa yang goyah

Andai kau tak hadir saat itu

Andai kau tidak mencariku

Apa jadinya diri ini

Tak bisa tersenyum sebelum kau hadir

Hadirmu buatku bisa tersenyum untuk pertama kali

Karna kutakut tersenyum

Begitu berat beban di pundakku

Membesarkan dan mendidik keempat buah hatiku sendirian

Kau hadir buatku percaya diri

Aku harus kuat dan tangguh

Kamu bangga denganku karna aku tak mudah digoyahkan, katamu

Itu yang buatku percaya diri

Menapaki kenyataan hidup yang tak bisa dielak

Karna takdir Alloh pasti yang terbaik

Takdir Alloh telah terukur buat hambaNya

Alloh tak pernah salah memutuskan

Alloh Maha Pengatur


Tulungagung, 29 Oktober 2020


MERINDUIMU


Berpuluh tahun kumenanti

Hadirmu wahai kekasih pujaan hati

Serasa airmata kering karena menahan rindu

Rindu tiada terperi

Menantimu tak kunjung datang

Janji manismu dua kali kau ucap dengan mudah

Seolah tiada rasa bersalah

Memberi harap tak pasti padaku

Memberi asa yang tak bisa kau penuhi

Hingga kau merasa berdosa padaku

Karna kau begitu mudah berjanji

Tuk temui aku di suatu saat nanti

Namun ... hingga kini belum jua kau kembali

Berpuluh-puluh purnama kau tak jua muncul

Hanya sisa cintamu yang masih bersemayam indah di hatiku

Cintamu yang tulus namun tak pernah mulus

Dua kali merajut kasih

Dua kali juga terputus karena keadaan

Dan takdir pastinya

Takdir tak bisa diratapi

Karna sudah tertulis di Lauh Mahmud

Bahwa cinta kita harus merana

Bagai cinta “Laela Majnun” katamu

Cinta yang tulus dan suci

Hanya “All My Love for You” yang kau ucap dua kali

Penguat cinta kita

Hingga suatu saat kita bersua

Entah kapan

Entah dimana

Alloh yang menentukan


Tulungagung, 29 Oktober 2020


Jumat, 21 Agustus 2020

KEPERCAYAAN YANG RETAK

 BAB 1
MENGAPA KAU CARI AKU



 Sekian tahun tlah berlalu, hingga aku lupa dengan tragedi kita. Sungguh lupa tak ingat sama sekali denganmu, jika kamu tidak cari aku setelah 23 tahun terpisah karena penghianatanmu.  Aku lupa jika kamu tidak cari aku, karena namamu sudah kukubur dalam-dalam dari ingatanku. Walau 23 tahun yang lalu aku seolah berada diantara hidup dan mati kehilanganmu dan terkejut atas penghiantanmu. Karena aku sudah terlanjur percaya padamu, tak pernah terlintas sedikitpun kejahatanmu  padaku. Karena kamu begitu baik padaku, kamu begitu bertanggunjawab kelihatannya dan tak pantas aku berprasangka buruk padamu. Karena begitu pandainya kamu membuatku percaya sepenuh hati padamu. Semua karena jarak yang memisahkan kita sehingga kamu begitu mudah berpaling, lupa akan diriku yang kamu beri All My Love For You. Apa aku salah mengartikan kalimat itu? Walau aku tak mahir bahasa Inggris, namun kalau ada kata love ya mengertilah...ada lagi kalimat yang membuatku terhipnotis oleh rayuanmu.. I will dedicate most beautiful for you. Siapa orangnya yang tidak terhipnotis oleh kalimat indah dari sang pujaan hati. Dari orang yang telah lama menjadi idola dan tak pernah dibayangkan akan datang membawa cinta setelah sekian lama satu sekolah ketika di bangku SMP. Ketika sudah kuliah dia datang membawa cinta suci murni, karena selama sekolah hingga kuliah tak pernah bertemu. 


Namun, waktu itu hanya 3 hari berbahagia setelah kamu menyatakan cinta ketika kamu duduk di semester 3, sedang aku tidak kuliah karena tidak ada biaya. Aku terpaksa bekerja, dan kamu tidak percaya jika aku bekerja.  Meski hanya 3 hari kita bertemu karena kamu harus kembali ke tempat studimu di luar Negeri, kita lanjutkan komunikasi kita melalui surat, karena jaman itu tahun 1991 belum ada gadget seperti sekarang. Mengharu biru cinta kita, sabar menunggu balasan surat darimu, seminggu dua minggu setelah kutulis surat kepadamu. Tiada kata selain kata rindu kutulis dalam setiap surat, kamu balas dengan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan kepadamu, sungguh kamu sangat berati bagiku. Kamu mampu menumbuhkan segala yang terpendam dalam diriku, kamu segalanya bagiku waktu itu, walau tak bisa bertemu, cintamulah yang membuatku kuat dan berharap masa depan bersamamu. Was-was dan cemburu ada, tapi kamu kuatkan dengan kekuatan cinta yang kamu tanamkan. Hingga aku lupa bahwa segala kemungkinan bisa terjadi karena kita berjauhan. 


Ternyata hal yang tak kuduga dan kusangka terjadi. Suatu hari aku mendengar kabar bahwa kamu tunangan, Woww...mau tahu perasaanku saat mendengar berita itu? Shock...perut langsung perih, mag kumat, lemas tiada daya...langsung aku pulang waktu itu, karena kudengar berita itu ketika aku ke rumah bulikku di dekat rumahmu.


to be contiuned

                Tulugangaung, 21 Agustus 2020

                2 Hijriyah 1432