JANGAN MALAS BELAJAR MESKIPUN BDR
Walaupun dia bermain di mana saja, jika mendengar adzan Dhuhur
pasti pulang untuk salat jamaah di masjid depan rumahnya. Setelah sholat dilanjutkan
bermain hingga adzan salat Ashar. Pernah suatu hari mandi di sungai hingga
berganti pakaian 3 kali dalam sehari, hingga kulitnya hitam kelam. Kalau dilarang bermain di luar justru
main hanphone untuk nge-game. Sehingga bundanya membiarkan dia
bermain di luar rumah untuk bersosialisasi dengan teman dan berdamai dengan alam
daripada game terus justru tidak baik, tambah pusing Bundanya.
“Apa tugas hari ini Bun,” tanya Adit kepada bundanya setiap pagi.
“Ini buka sendiri,” jawab bundanya
sambil menyerahkan hanphone kepada Aditya.
“Sana belajar sama kakak,” saran bundanya.
“Sini dik, belajar sama aku,” ajak Kak Dea.
“Enggak mau, nanti malam saja, aku mau main,”
jawab Aditya sambil mengambil sepedanya untuk pergi main.
Pada saat yang sama, Dimas datang.
“Adit ... Adit ...,” panggil Dimas.
“Iya, sebentar ambil sepeda,” jawab
Adit.
“Yuk, kita berenang di sungai,
airnya tidak tinggi lho,” ajak Dimas.
“Nanti saja agak siang, ini masih
pagi kita main sepedahan dulu saja,” kata Adit.
“Oke, ayo berangkat!” ajak Dimas.
Tibalah waktu adzan dhuhur, sudah hampir iqamat, Adit belum
kelihatan batang hidungnya.
“Aduh, di mana Adit ya, belum juga
pulang sudah mau iqamat,” guman Kak Dea.
“Di mana mencarinya ... pasti Bunda
marah-marah nanti.”
Tak lama kemudian, datanglah Adit teburu-buru naik sepedanya.
Ia belok ke pintu
gerbang tanpa mengerem sehingga ia pun jatuh. Badannya
basah sehabis mandi di sungai.
“MasyaAllah ... Adit, cepat-cepat mandi sudah
hampir sholat nih!” seru Kak Dea.
“Iya, ya ... kak, ini mau jalan,”
sambil berlari hati-hati karena badan basah kuyup dan
tentu
sandalnya juga licin buat lari.
“Ayo, Adit ... cepat!” lagi-lagi Kak Dea memanggil Adit
yang masih di kamar mandi sambil bermain
dengan ikannya.
“Iya ... iya ... ,”
jawab Adit sambil jebar-jebur mempercepat mandinya.
Sehabis
salat cepat-cepat pulang ganti baju main, siap-siap mau main lagi.
“Adit, makan dulu,” kata kak Dea yang baru keluar dari
masjid.
“Nanti Kak, tidak lapar,” kata Adit sambil berjalan menuju
sepedanya.
Panggilan kakaknya tidak dihiraukan, karena sudah ditunnggu
teman-temannya untuk melanjutkan berenang di
sungai.
****
Ketika tiba waktu ulangan tengah
semester Adit kewalahan belajar. Karena sebelumnya dia tidak belajar
sungguh-sungguh. Padahal setiap pelajaran harus belajar dua buku tematik yaitu
tema 1 dan tema 2. Akhirnya belajarnya dipersingkat hanya membaca uji
kompetensi, karena keburu dia ngantuk kecapean bermain tidak pernah tidur
siang.
“Ayo, Dik, belajar ... besok sudah mulai ulangan lho!” ajak Kak Dea.
“Iya ... iya, Kak,” jawab Adit.
“Adit, jangan sambil rebahan
belajarnya, nanti ketiduran lagi lho ... ,” Kak
Dea mengingatkannya.
“Aduh, Adit ... tidur lagi ... tidur
lagi,” guman Kak Dea sambil memberesi buku yang
dipegang Adit biar tidak rusak.
Alhamdulillah, Adit selalu bangun subuh
dan berjamaah di masjid, sehingga belajarnya bisa dilanjut sedikit setelah
sholat subuh sampai pukul 06.00 WIB dan setelah tadarus satu halaman.
“Ayo, belajar lagi ... masih banyak
yang belum dipelajari,” kata Kak Dea.
“Baca dulu, nanti aku baca soalnya
kamu yang jawab ya,” lanjut kakaknya.
“Iya, Kak,” jawab Adit.
Pulang sekolah selalu ditanya kakaknya.
“Gimana dik bisa mengerjakan tadi
soalnya?”
“Aa ... am ... bisa, ada yang tidak
bisa.” Kalau jawabnya lama berarti dia tidak begitu bisa mengerjakan.
“Makanya, belajar yang rajin biar
bisa mengerjakan semua dan tidak bingung.”
Tidak digubris nasihat kakaknya, dia
langsung ganti baju mengambil sepeda gunungnya, kabur ... dan
bermain.
***
Tibalah pembagian rapor setelah
seminggu UTS. Kebetulan bundanya sibuk,
pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa mengambil rapor ke sekolah.
“Bunda ... tadi saya ke rumah,
rumahnya tutupan mau antar rapor Adit,” WA dari Pak Indra yang dititipi rapor
dari wali kelas.
“O ... iya, Pak ... saya masih belum
pulang,” jawab Bunda Adit.
“Biarlah Pak ... tidak usah diantar
ke rumah, besok Senin saja saya ambil, saya mau menenangkan diri dulu,
menyiapkan mental untuk melihat rapor Adit,” lanjut bundanya.
“Ya, Bunda ... saya juga shock
melihat rapornya,” jawab Pak Indra.
“Memang Adit kalau di rumah tidak
rajin belajar Pak.”
“Apalagi BDR ini, main terus mandi
di sungai hingga kulitnya hitam kelam.”
Akhirnya
pada hari Senin, bundanya mengambil rapor Adit. Melihat rapor Adit, shock juga bundanya,
karena ada 3 mata pelajaran yang di bawah KKM. Yaitu pelajaran matematika, PJOK
dan SBDP.
“Adit, sini duduk sebentar, Bunda
mau bicara.”
“Ya, Bunda.”
“Coba lihat ini rapor kamu
kebakaran.”
“Apa itu kebakaran Bunda, Adit tidak
mengerti.”
“Kebakaran itu, jelek ... kalau
zaman Bunda dulu ditulis dengan tinta merah, kalau sekarang ini, di bawah KKM.”
“Oooo ... gitu. Maafkan Adit, Bunda. Adit menyesal Bunda. Adit akan rajin belajar,” jawab Adit
menyesali perbuatannya yang hanya bermain.
“Adit berjanji akan mengerjakan
tugas dulu sebelum bermain ... suwer
Bunda,” lanjut Adit sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
***
Tulungagung, 8 November 2020
Cerita yang bagus
BalasHapus